Senin, 21 Juni 2010

Memaafkan merupakan pembersih dari segala kekotoran di dalam hati kita

Memaafkan bukan berarti membiarkan melakukan kesalahan yang sama secara terus menerus karena bila ada orang melakukan kesalahan ada kecenderungan akan melakukan kesalahan itu lagi maka selain kelembutan diperlukan sikap tegas untuk mengingatkan agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

Jumat, 18 Juni 2010

Nrimo sing Fokus

Menerima apa adanya dalam konsep qona’ah adalah fitrah dan sangat membahagiakan, sungguh bersahaja. Namun, jika logika menerima, tapi hati tersakiti, berarti masih ada yang perlu diperbaiki. Nrimo itu bukan sekedar ungkapan kata, tapi syukur yang nyata. Ketika nrimo-mu jadi filosofi yang berujung negatif, maka ojo ditrimo.

Menerima itu harus fokus pada nikmat yang ada, agar bertambah sisi nikmatnya. Terima apa yang ada dengan segenap cerdasmu, dengan fokus pada sisi kelebihannya. Lebihnya disyukuri, kurangnya diikhlaskan, besoknya diperbaiki. Itulah nrimo sing sejati.

Kamis, 17 Juni 2010

Surat dari Ibu PART 3

Wahai Anakku!
Ibu merasakan kebahagiaan dan kegembiraan bertambah saat melihatmu hidup bahagia, karena engkau adalah buah hati ibu. Apa salah ibu sehingga engkau memusuhi ibu, tak suka melihat ibu, dan engkau merasa berat untuk mengunjungi ibu? Apakah ibu pernah berbuat salah padamu atau pelayanan ibu kurang memuaskanmu?

Surat dari Ibu PART 2

Wahai Anakku!
Telah berlalu tahun demi tahun dari usiamu, dan dirimu selalu ibu bawa dalam hati ibu. Ibu memandikanmu dengan kedua tangan ibu. Pangkuan ibu sebagai bantalmu. Dada ibu sebagai makananmu. Ibu berjaga semalaman agar engkau bisa tidur. Ibu susuri siang hari dengan keletihan demi kebahagiaanmu. Dambaan ibu tiap hari adalah melihatmu tersenyum. Dan idaman ibu setiap saat adalah engkau meminta sesuatu yang ibu sanggup lakukan untukmu. Itulah puncak kebahagiaan ibu.

Surat dari Ibu PART 1

Wahai Anakku !
Inilah surat dari ibumu yang lemah, yang ditulis dengan penuh rasa malu setelah lama mengalami keraguan dan kebimbangan. Ibu pegang penanya berkali-kali lantas terhenti, dan ibu letakkan lagi pena itu karena air mata berlinang berkali-kali yang disusul dengan rintihan hati.

Wahai Anakku !
Sesudah perjalanan waktu yang panjang, ibu rasa engkau sudah dewasa dan memiliki akal sempurna maupun jiwa yang matang. Sedangkan ibu punya hak atas dirimu, maka bacalah sepucuk surat ini; dan jika tidak berkenan robek-robeklah sebagaimana engkau telah merobek-robek hati ibu.